Inilah Asal Mula Nama Ayu Ting Ting



Pedangdut Ayu Rosmalina mengubah namanya saat masuk industri musik menjadi Ayu Ting Ting. Apa dan bagaimana ceritanya nama itu akhirnya dipilih?
Ayu menuturkan, dirinya sudah akrab di dunia hiburan sejak umur empat tahun. Ibunya, Umi Khalsum, adalah seorang penyanyi. Tak heran hingga bakat seni dari ibunda turun kepada dara cantik kelahiran Depok, 20 Juni 1992 itu.

Singkat cerita, embel-embel nama 'Ting Ting' didapatkan Ayu setelah merilis album pertama pada 2007 berjudul 'Geol Ajep Ajep'. Di dalam album itu ada lagu berjudul Ting Ting. Lalu sang produser mengusulkan agar Ayu memiliki nama panggung Ayu Ting Ting.

"Karena saya kan masih ting-ting, hahaha. Enggak, jadi awalnya di album pertama saya yang itu ada judul lagu Ting Ting, liriknya gini 'Saya masih ting-ting dijamin masih ting-ting'. Nah, kata produser saya yang dulu, kenapa Ayu enggak ditambahin 'Ting Ting' saja. Lagian itu juga ada di album," beber Ayu.

Menurut Ayu yang kini berada di naungan Star Media Nusantara (SMN), nama 'Ting Ting' sangatlah lucu dan unik, sehingga mudah diingat orang. "Aku suka banget sama nama itu. Jadi aku mau saja," ungkap Ayu yang doyan nonton drama Korea itu.

Ayu saat ini sedang sangat populer dengan lagunya yang berjudul Alamat Palsu. Undangan wawancara dengan media pun tak pernah berhenti. Bahkan, hingga November mendatang jadwal manggung Ayu sudah penuh. Ya, Ayu beken seperti lirik lagunya yang melekat di kepala pendengar, 'Di mana..di mana..di mana..sekarang tinggalnya di mana...

sumber:http://yafi20.blogspot.com/2011/10/inilah-asal-mula-nama-ayu-ting-ting_07.html#ixzz1a3XWHDgC
Read More....

Demi Ibu Lumpuh, Janda Ini Nekat Nyopet Uang Rp 30 ribu

Pamekasan - Di ruang seksi pidana umum Kejaksaan Negeri, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, Mariam menyembunyikan wajah dari sorot kamera wartawan. Wanita 30 tahun ini baru membalikkan wajahnya, saat penyidik kejaksaan di depannya mengajukan pertanyaan.



Mariam, warga Desa Kalianget Timur, Kecamatan Kalianget, Kabupaten Sumenep ini, sudah dua bulan mendekam dalam tahanan Polres Pamekasan. Pada 21 Agustus 2011 lalu, Mariam ditangkap warga di Pasar Larangan. Janda tanpa anak ini ketahuan mencopet sebuah dompet milik Riskur Karimah, seorang pembeli di pasar itu, yang berisi uang Rp 30 ribu. "Saya malu sudah mencopet, malu masuk koran," katanya kepada wartawan, Kamis. 6 Oktober 2011.

Menurut Mariam, aksi mencopet itu terpaksa dilakukan demi membelikan sesuap nasi untuk ibunya yang sakit lumpuh. Sejak dicerai suaminya, kondisi ekonominya kacau balau. Untuk makan sehari-hari dia terpaksa utang kanan kiri. Bebannya bertambah karena harus merawat ibunya yang sakit.

Hati Mariam bertambah sedih karena selama ditahan tak seorang pun menjenguknya. "Saudara-saudara saya sudah tidak mengakui saya, saya seperti sebatang kara," tuturnya dengan linangan air mata.

Mariam kini berharap kasusnya cepat selesai disidangkan, sehingga bisa segera kembali ke rumah karena tidak ada yang merawat ibunya yang lumpuh. "Saya menyesal, saya ingin kasus ini cepat selesai," ujarnya.

Kepala Seksi Pidana Umum Kejaksaan Negeri Pamekasan Mohammad Rosul mengatakan, akan secepatnya melimpahkan berkas Mariam ke pengadilan. "Dia memang punya ibu lumpuh dan tidak ada yang merawat, dalam minggu ini berkasnya akan kita limpahkan," katanya.

sumber:http://maskolis.blogspot.com/2011/10/demi-ibu-lumpuh-janda-ini-nekat-nyopet.html
Read More....

Kisah Nenek Mencari Anak yang Divonis Mati

Karsih binti Ocim, 48 tahun, terancam hukuman pancung di Arab Saudi

Demi anak, apa pun dilakukan. Meski tubuh sudah ringkih, seorang nenek bernama Acah (67), rela berkeliling ke sejumlah instansi di Jakarta. Tujuannya hanya satu, mendapat kabar tentang anaknya yang terancam hukuman mati di Riyadh, Arab Saudi. Raut sedih tampak di wajah Acah, warga Pagadungan, Tempuran, Karawang, Jawa Barat. Ucapannya terbata-bata saat menceritakan nasib anaknya.


Isti Komariyah, TKW yang mati kelaparan (New Straits Times)

Karsih binti Ocim, anak yang dia lahirkan pada 1964, sedang terancam hukuman pancung di Arab Saudi. "Dia dituduh meracuni anak majikan," ujarnya. Kabar bak petir itu dia terima pada 2007 silam. Menurutnya, ketika menerima kabar, Karsih sudah ditahan polisi di sana selama selama empat bulan. "Setelah itu tidak ada kabar lagi," ujarnya. "Boro-boro kembali ke tanah air, pembicaraan pun tidak ada."

Acah mengisahkan, anaknya berangkat menjadi TKW pada 1999. Ketika itu, dia meninggalkan bayi berusia empat bulan. Kini, anaknya itu telah berumur 13 tahun. "Dulu berangkat sama sponsor," katanya. Sekretaris Desa Pagadungan, Karawang, Jawa Barat, Soedarto, yang mendampingi Acah, membantu menjelaskan. "Karsih berangkat melalui PJTKI PT Hosana Adi Kreasi yang beralamat di Jalan Kalisari Jakarta Timur," katanya.

Bukan kali ini saja Acah berjuang. Sudah sejak tahun 2007 dia mencari kepastian tentang nasib anaknya. Apalagi, pada 2008, dia mendengar kabar anaknya telah dieksekusi pancung. "Pernah nanya ke perusahaan, datang enam kali," ujarnya. Tidak dapat kejelasan dari perusahaan penyalur, Acah mendatangi Kementerian Luar Negeri. Staf yang menemui hanya memberikan kliping Tabloid Jayakarta Tahun 1/Edisi 6 terbitan 16-29 Februari 2008 berjudul "Tak Benar Karsih di Hukum Mati."

Dalam berita itu, dijelaskan Karsih baik-baik saja, tidak terkena kasus apapun. Dimuat pula foto Karsih berdampingan dengan majikan, diapit pejabat dan pengacara KBRI Riyadh. Meski begitu, tetap saja tidak ada kabar yang dia dengar langsung. Acah pun terus mencari. Dia sempat mencoba menemui Kepala BNP2TKI Jumhur Hidayat. Tapi, gagal.

"Kami juga ke BNP2TKI, mau ketemu Pak Jumhur, tapi tidak bisa ketemu. Kami kejar, suruh tunggu di kantor, ternyata kata pegawainya sudah keluar lewat pintu belakang," kata Soedarto yang mendampingi Acah. Kemarin, Kamis, 23 Juni 2011, Acah didampingi anak Karsih, Toto Isyanto (13), serta Soedarto, mengadu ke Fraksi Demokrat. Nenek malang itu diterima Ketua Fraksi Demokrat Jafar Hafsah, Sekretaris Fraksi Saan Mustopa, serta Anggota Komisi IX, Nova Riyanti Yusuf.

Saan menyatakan, akan membantu mencari tahu tentang nasib Karsih. Menurutnya, berdasar data Migrant Care, Karsih termasuk 28 TKI yang terancam Pancung. Tertulis, Karsih dituduh dalam kasus pembunuhan. "Saat memakan mi yang dibuat Karsih, anak majikannya langsung meninggal. Makanya dia dilaporkan ke polisi," kata Saan.

Saan sendiri secara pribadi akan mengirimkan surat ke BNP2TKI dan Kemenlu serta jaringannya di Arab Saudi untuk mengetahui kondisi Karsih. "Apakah sebagai tahanan atau bagaimana," ujarnya.

sumber:http://maskolis.blogspot.com/2011/10/kisah-nenek-mencari-anak-yang-divonis.html
Read More....
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...