Duh Sakit Karena Gigi Berlubang! Begini Cara Mengatasinya


Sakit gigi? Ampun deh sakitnya gak ketulungan. Apalagi, kalau sakit ini akibat gigi berlubang. Huf, tentunya tak menyenangkan bukan?

Penyebab gigi berlubang adalah sisa makanan yang menetap di gigi, yang oleh bakteri di mulut diubah menjadi asam yang membentuk plak. Plak ini mengandung mikroorganisme yang mengikis email gigi yang kemudian menyebabkan gigi berlubang.

Awalnya, lubang gigi kecil dan tidak dirasakan oleh si penderita, hanya saja kalau ia makan sesuatu yang manis, sangat dingin, atau sangat panas, ia akan merasakan ngilu. Dari hari ke hari lubang ini makin lama makin besar hingga terjadi peradangan yang mengenai saraf gigi dan penderita pun mengalami sakit gigi.

Selain karena gigi berlubang, sakit gigi bisa disebabkan tumbuhnya gigi geraham bungsu.

Bagaimana mengatasinya? Cobalah kumur dengan air hangat yang diberi garam, cara ini lumayan dapat mengurangi rasa sakit.

Cara lain, ambillah kapas lalu celupkan ke minyak cengkih. Oleskan kapas itu ke gigi yang berlubang. Minyak cengkih mengandung minyak atsiri yang berkhasiat sebagai anestesi lokal sehingga dapat menghilangkan sakit gigi sementara waktu. Hati-hati jangan menggunakan cara ini lebih dari 3 hari karena bisa melukai gigi.

Bila ingin mencoba obat tradisional, ambillah daun jambu biji (Psidium guajava, Linn.). Cuci bersih, lalu lumatkan. Taruh ramuan di gigi yang sakit. Sama seperti minyak cengkih, daun jambu biji mengandung minyak atsiri yang berkhasiat antiradang dan penghilang rasa sakit.

Jika cara ini tak sembuh, sebaiknya, Anda segera pergi ke dokter gigi. Mungkin ada gigi yang berlubang dan lubang itu bukan sekadar lubang kecil, tetapi sudah meradang hingga mengenai saraf gigi.

Jika absesnya terjadi pada akar gigi, nyerinya akan hebat sekali. Karenanya, Anda harus segera ke dokter gigi. Tak perlu takut karena peralatan dokter gigi sekarang sudah begitu canggih sehingga tidak lagi menyakitkan.

sumber
Read More....

Ternyata Minum Obat Pakai Sendok Makan Berisiko Over Dosis

Tak sedikit orang yang minum obat cair seperti obat batuk atau flu dengan menggunakan sendok makan atau sendok teh. Penggunaan sendok makan tersebut ternyata meningkatkan risiko kesalahan pemberian dosis obat.

“Seperti diketahui banyak masyarakat yang mencari alternatif alat untuk minum obat, salah satunya dengan menggunakan sendok makan. Praktik ini sangat berisiko meningkatkan kesalahan dosis yang dapat berbahaya,” ujar Koert van Ittersum, asisten profesor di Georgia Institute of Technology di Atlanta, seperti dikutip dari HealthDay.



Dijelaskan van Ittersum bahwa hal tersebut sama dengan ukuran piring yang mempengaruhi berapa banyak orang tersebut makan. Hal ini berarti alat yang digunakan bisa memiliki efek terhadap dosis obat yang diberikan.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh van Ittersum dan rekan telah dipublikasikan dalam Annals of Internal Medicine. Badan pengawas makanan dan obat Amerika Serikat (FDA) telah memberikan peringatan agar tidak menggunakan sendok makan untuk mengukur obat cair apapun.

Dalam melakukan studi ini, peneliti melibatkan 195 mahasiswa yang berkunjung ke klinik kesehatan di sekitar universitas. Setiap siswa diminta untuk menuangkan 5 ml obat batuk dengan alat pengukur, lalu siswa diminta mengulangi dengan menuangkan obat ke sendok.

Mahasiswa diminta untuk menungkan obat tersebut ke sendok teh dan sendok yang lebih besar yaitu sendok makan. Dalam hal ini juga dilihat tingkat keyakinan dari mahasiswa dalam menuangkan obat. Ternyata dosis yang ditemukan bervariasi tiap orang dan juga tergantung dari ukuran sendoknya.

Didapatkan bila menggunakan sendok teh kesalahan dosisnya lebih dari 8 persen dan jika menggunakan sendok yang lebih besar seperti sendok makan kesalahan dosis hampir 12 persen.

Obat cair yang dikonsumsi seperti obat batuk atau flu dengan dosis yang tidak tepat bisa mempengaruhi kesehatan. Jika dosis yang digunakan berlebih dan dalam jangka waktu yang panjang kemungkinan besar bisa memberikan konsekuensi nyata seperti efek samping dari obat itu sendiri. Risiko akan lebih besar lagi jika terjadi pada anak-anak.

“Situasi seperti ini menjadikan musuh terbesar adalah diri kita sendiri. Sebaiknya gunakan alat pengukur yang memang seharusnya digunakan agar bisa mengukur secara akurat dan menghindari over dosis,” ungkap van Ittersum.[inertseven]

sumber:http://www.osserem.me/2011/09/ternyata-minum-obat-pakai-sendok-makan.html
Read More....

Bayi Termuda Operasi Jantung Saat Baru Berusia 22 Jam


Whitby, North Yorks, Beberapa bayi lahir dengan kelainan jantung yang harus memerlukan operasi. Namun Toby Drink membuat rekor menjadi pasien operasi jantung termuda di Inggris yang dioperasi saat usianya baru 22 jam.

Belum genap sehari Toby Drink melihat dunia, namun bayi mungil itu sudah harus menjalani operasi besar jantung. Ditubuhnya terpasang serangkaian alat pendukung medis dan kabel-kabel untuk membuatnya tetap hidup.

Toby menderita Hypoplastic Left Heart Syndrome, yaitu kelainan yang membuat jantung sisi kiri gagal untuk terbentuk secara benar. Ia harus menjalani operasi untuk menyelamatkan nyawanya, sejak kesehatannya memburuk secara dramatis pada saat lahir. Ia menjadi pasien operasi jantung termuda di Inggris dengan usia baru 22 jam.

Setelah menjalani 12 jam operasi, Toby yang kini berusia 10 minggu sudah diperbolehkan kembali ke rumah.

"Dia pejuang kecilku. Sangat luar biasanya bila dia jadi pasien termuda (untuk operasi jantung), tetapi bagi saya rekor tidaklah penting. Yang lebih penting adalah dia ada disini sekarang dan dia masih hidup," jelas ibunda Toby, Sophie (25 tahun), seperti dilansir Mirror, Selasa (29/11/2011).

Dokter dan perawat pertama kali menemukan ada yang tidak beres ketika kandungan Sophie berusia 22 minggu. Toby menderita kelainan jantung yang hanya terjadi pada 1 dari 5.000 bayi yang lahir.

"Dokter mengatakan saya punya tiga pilihan, yaitu mengakhiri kehamilan, tidak melakukan apa-apa dan melihat dia mati atau melahirkannya dan melihatnya menjalani semua operasi," kenang Sophie.

Hancurlah sudah perasaan Sophie ketika dokter memberinya tiga pilihan yang sangat berat. Namun setelah berbicara dengan ibu dan ayahnya, Jackie dan Mark, ia memutuskan untuk tetap melahirkan Toby dan akan berusaha melakukan apapun agar dia selamat dan tetap hidup.

"Saya memutuskan tidak akan pernah bisa hidup sendiri jika saya tidak bisa memilikinya," jelas Sophie.

Toby akhirnya lahir diinduksi saat usia kandungan 39 minggu pada 8 September 2011 lalu, dengan berat 3,2 kg. Sophie hanya melihatnya selama 15 menit sebelum ia menjalani operasi jantung di Freeman Hospital, Newcastle.

"Saya sangat takut. Tapi dari pertama kali saya melihat unit jantung, saya tahu kami ada di tangan yang benar. Namun, sedikit menakutkan melihatnya dengan begitu banyak kabel ketika dibawa keluar dari ruang operasi dalam keadaan stabil. Ada begitu banyak mesin di tubuhnya," katanya.

Yang menakjubkan, hanya seminggu setelah operasi, kondisi tubuh Toby sudah cukup membaik untuk bisa kembali pulang ke rumahnya di Whitby, North Yorks.

"Dia sekarang seperti monyet kecil. Jika melihatnya, Anda tidak akan tahu bahwa ada hal traumatik yang pernah terjadi di awal kehidupannya. Hanya jika Anda melihat bekas luka di dadanya baru Anda akan percaya bahwa dia pernah menjalani operasi besar," jelas Sophie.

Sophie tidak pernah berpikir bahwa dia bisa mendekap dan memeluk Toby dengan erat. Dia sangat berterimakasih dengan Freeman Hospital.

Sebelum Toby, pasien termuda yang menjalani operasi jantung di Inggris adalah Rudy Maxwell-Jones saat berusia 36 jam di Birmingham Children’s Hospital pada bulan Juli lalu.
sumber
Read More....
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...